Monday, April 14, 2008

Nyaris Jadi Pakar Pornomatika

Ternyata bukan cuma media yang bisa mengumbar-umbar titel pakar...

Kisah ini terjadi sekitar 3 tahun silam. Kala itu saya dan teman-teman yang tergabung di RPG (Rumah Pohon Group, what a name!) sedang asik-asiknya berkecimpung di dunia per-riset-an. Suatu hari, seorang teman yang memang gemar memancing kontroversi datang kepada saya dengan menawarkan sebuah ide riset: filter pornografi untuk citra diam dan bergerak. Rupanya teman saya ini memang jago memprediksi kebutuhan pasar (buktinya sekarang ada RUU ITE). Filter pornografi yang ada pada masa itu memang lebih ditujukan untuk konten berupa teks dimana pemblokiran dilakukan untuk situs-situs yang mengandung kata kunci tertentu.

Tentu saja filter teks seperti itu masih jauh dari sempurna, makanya ide filter citra diam dan bergerak dimunculkan. Tawaran teman saya ini saya tanggapi dengan tidak begitu antusias. Memang betul bahwa riset ini adalah sesuatu yang sangat menantang. Tapi ada beberapa hal yang membuatnya menjadi tidak menarik. Bukan, bukan karena uang (pada saat itu saya cukup terbiasa bekerja tanpa dibayar sama sekali :P). Begini, yang saya bayangkan sebuah filter pornografi sebenarnya bertugas mengklasifikasikan suatu konten kedalam dua golongan... konten normal dan konten "terlarang" :P Klasifikasi bisa dilakukan dengan pengenalan pola atau bahasa kerennya pattern recognition. Nah, dalam pengenalan pola ini salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan, yaitu identifikasi fitur.

Apa itu fitur? Aku kasih contoh deh. Misal kita mau mengklasifikasikan kendaraan. Fitur yang (mungkin) cocok digunakan untuk mengklasifikasikan kendaraan adalah: jumlah roda, panjang kendaraan, tinggi kendaraan, dan lain-lain. Fitur harus cukup sederhana (bisa diekstrak dari konten yang akan diklasifikasikan) namun juga harus dapat digunakan sebagai dasar klasifikasi. Contoh pemilihan fitur yang (mungkin) kurang tepat dalam mengklasifikasikan kendaraan misalnya adalah plat nomor, warna kendaraan, dan harga kendaraan. Nah, dalam kasus filter pornografi ini, analisis yang cukup dalam perlu dilakukan terhadap konten-konten yang akan di filter tsb hehehe... you know what I mean?

Melihat saya yang tidak antusias, teman saya ini kemudian mengeluarkan rayuan mautnya: "Ayolah Bib... nanti kan keren kamu bakal terkenal sebagai pakar pornomatika Indonesia".

Dih! Makin ga tertarik deh!

3 comments:

Zakka Fauzan Muhammad said...

Ahahahaha.... Aya-aya wae (gayanya JK di Republik Mimpi)

Velly said...

*sedang mengira-ngira... siapakah gerangan 'rekan yang suka memancing kontroversi' itu?* .... :-?

Credo said...

Wahhh, padahal aku bakal bangga loh Bib, klo temanku ini jadi pakar pornomatika ;))