Showing posts with label Olahraga. Show all posts
Showing posts with label Olahraga. Show all posts

Monday, June 08, 2009

Test Selera Humor

Belakangan ini beberapa teman mengeluhkan joke saya yang tidak dapat dipahami secara langsung. Untuk mengetahui kecocokan selera humor saya dan anda maka saya akan menunjukkan sepotong hasil chat saya dengan seseorang yang selama hidupnya banyak mempengaruhi selera humor saya. Anton (bukan nama sebenarnya), adalah penggemar bulutangkis asal Jogja. Dia hendak meminta tandatangan Dicky Palyama (pemain bulutangkis no.1 Belanda) lewat teman saya yang juga temannya Dicky. Berikut pembicaraan kami:

Anton: awak nitip tandatangan diki yah
HabsQ: :))
HabsQ: malu ah mintanya
Anton: bukan diki firasat (pemain Persib, red), diki palyama
HabsQ: nanti kalau saya minta temen saya, dia jawab gini
HabsQ: "kamu minta ttd Diki ga minta ttd saya?"
HabsQ: "saya lebih jago dari Diki loh"
HabsQ: ya nanti saya email deh
Anton: "dari mas, sy minta traktir aja deh"
HabsQ: :))
HabsQ: saya bilang gini aja ya
HabsQ: temen saya fans Dicky Palyama
HabsQ: minta tandatangannya dong
HabsQ: nama fans: Anton
HabsQ: skill: advanced
HabsQ: stamina: below average
Anton: stat stamina nya keep hidden aja deh kyknya
HabsQ: pasti nanti di-scout Ton, percuma
HabsQ: Ton
HabsQ: pembicaraan ini saya tulis di blog yah
HabsQ: *dengan sedikit modifikasi tentunya*
Anton: weks
HabsQ: jangan minta royalti yah

Kalau Anda tertawa maka selera humor Anda cocok dengan saya, which is sangat-sangat mengkhawatirkan. Kalau Anda nggak ketawa sama sekali maka saya ucapkan selamat untuk Anda!!

Tuesday, May 12, 2009

Cerita Dari Groens Cup 2009

Groens Cup adalah even olahraga multi-event yang diselenggarakan setiap tahun di Groningen, Belanda untuk Orang-orang Indonesia yang bermukim di Belanda maupun Warga Negara Belanda keturunan Indonesia. Saya bermain di cabang bulutangkis tunggal putra dan ganda bebas bersama Istri.

Hari Pertama


Tunggal Putra

Saya ini tipe orang yang nggak pernah menang apapun kalau ikut undian berhadiah dan hal-hal semacamnya. Tahun lalu di Groens Cup saya dan Linda langsung kebagian melawan Melvin/Kimberly (yang akhirnya jadi juara) di babak pertama. Tahun ini saya kembali beruntung dan di pertandingan pertama tunggal putra langsung dihadapkan dengan Wibi (juara tunggal putra tahun lalu di Groens Cup). Awalnya saya berniat untuk main tidak terlalu ngoyo karena meskipun kalah, saya tetap bisa lolos ke perempat final kalau bisa mengalahkan lawan lainnya yang menurut saya levelnya masih jauh di bawah Wibi. Dikombinasikan dengan badan yang belum panas dan perasaan belum nyaman dengan lapangannya, saya kalah mudah di set pertama. Tersengat karena dibantai, di set kedua saya berniat untuk melawan sampai lupa kalau rencana awal adalah untuk main tidak terlalu ngoyo. Set kedua berlangsung ketat walaupun akhirnya saya bisa menang sehingga skor menjadi 1-1. Di set terakhir, pertandingan masih ketat juga, namun Wibi berhasil leading sampai 20-15. Saya berhasil mencuri 4 poin sehingga skor menjadi 20-19 untuk Wibi, namun akhirnya harus kalah 21-19. Dua pertandingan lain di grup berhasil saya menangkan straight set sehingga bisa tetap lolos ke babak perempat final. Melvin juga lolos setelah menang mudah tiga kali berturut-turut tanpa kehilangan satu set pun, begitu juga Wibi dengan dua pertandingan sisanya.


Ganda Bebas

Saya dan Linda sebetulnya agak kecele ketika tahu di Groens Cup 2009 ini tidak ada cabang ganda campuran. Berhubung nama kami terlanjur dimasukkan di dalam daftar ganda bebas maka kami berniat main lepas saja karena sebagian besar peserta adalah pasangan ganda putra. Berbeda dengan undian grup di tunggal, di ganda bebas kami lebih beruntung karena tidak perlu ketemu dengan ganda tangguh Melvin/Wibi atau pasangan Eindhoven yang lumayan kuat Sammy/Grant. Saya dan Linda berhasil memenangkan semua pertandingan di grup. Lucunya kami ketemu dengan Mbak Tina di pertandingan kedua yang juga satu-satunya ganda campuran yang kami hadapi di Groens Cup ini. Melvin/Wibi dan Sammy/Grant juga nggak menghadapi masalah di penyisihan grup.

Hari kedua

Tunggal Putra

Saya berangkat ke lapangan tanpa tahu siapa calon lawan di perempat final. Setengah jam sebelum pertandingan yang dijadwalkan, saya diberi tahu Linda via telpon kalau nama saya sudah dipanggil oleh panitia dan diancam WO kalau tidak segera muncul :) Bonusnya, Linda bilang lawan saya adalah Melvin (haduhhh.... ). Saya yang masih dalam perjalanan pun lari terbirit-birit ke lapangan sebelum akhirnya ketemu Melvin di dekat pintu sport centrum yang kemudian bilang kalau saya sudah kalah WO sambil cengengesan, untungnya dia cuma becanda :P Saya buru-buru ganti pakaian dan bersiap-siap di lapangan sambil banyak-banyak berdoa. Melvin ini kelasnya minimal satu level di atas saya, karena itu niat saya adalah untuk bermain habis-habisan dari awal, syukur-syukur kalau bisa dapat set pertama. Ternyata harapan saya bener-bener jadi kenyataan, di set pertama Melvin masih sering membuat kesalahan sendiri dan saya main enak sekali sehingga akhirnya bisa unggul 21-18. Saat itu penonton makin banyak dan anehnya saya bukannya nervous malah tambah semangat. Tapi Melvin memang terlalu tangguh. Set kedua berhasil dia rebut meskipun pertandingan tetap ketat, skor 21-17 untuk Melvin. Di akhir set kedua kami minta break lima menit ke umpire. Saya sudah menggelepar di pinggir lapangan. Rasanya bertanding dua set melawan Melvin lebih berat dari bermain enam kali di hari pertama. Selama break saya dapat dukungan dari suporter Delft dan juga suporter netral. Mungkin mereka heran juga ya... kok ada geek yang bisa main badminton hehehe...

Akhirnya set ketiga dimulai juga. Pertandingan berlangsung ketat sampai skor 8-8. Mulai disini perbedaan fisik mulai kelihatan. Meskipun kami seumuran, tapi fisik saya seperti jompo kalau dibandingkan dengan Melvin. Melvin mulai mengendalikan permainan dengan menggunakan strategi yang tepat untuk memaksa saya lari-lari di lapangan. Saat itu tangan saya mulai gemetaran dan di akhir-akhir malah membuat error sendiri. Seperti sudah diduga, akhirnya Melvin menang dengan 21-16. Saya kalah tapi tetap bangga sekali karena penonton memberi aplaus untuk kami. Lebih-lebih setelah akhirnya Melvin jadi juara setelah menang mudah di semifinal dan final dengan straight set (melawan Wibi yang sepertinya kurang fit). Melvin memang top! Saluttt...


Ganda Bebas

Pertandingan perempat final ganda bebas mempertemukan pasangan saya/Linda dengan pasangan ganda putra Wageningen. Di luar dugaan, pertandingan berlangsung cukup cepat dan mudah. Sepertinya Linda sedang on-fire dan main bagus sekali di depan net. Dalam tempo tidak terlalu lama kami menang dua set langsung 21-8 21-13. Di babak semifinal kami akhirnya dapat jackpot karena harus melawan Melvin/Wibi. Pikiran saya, di single, lawan Melvin saya kalah, lawan Wibi juga. Sekarang saya harus lawan dua-duanya sekaligus hahaha... Saya sudah melobi mereka untuk gantian main seorang-seorang saja tapi ditolak :P Untungnya Melvin/Wibi cukup berbaik hati. Mereka bermain dengan tempo sedang dan tidak terlalu agresif walau tetap menang di set pertama. Saya dan Linda mencoba curi-curi kesempatan dan merasa sudah menang setelah berhasil mengambil set kedua meskipun akhirnya Melvin/Wibi berubah menjadi "agak" serius di set terakhir dan akhirnya menang 2-1. Di pertandingan ini kami dapat suporter ekstra karena didukung Mbak-mbak penonton yang senang melihat perempuan satu-satunya di babak perempat final dan semifinal ganda bebas. Melvin/Wibi sendiri akhirnya menjadi juara setelah tanpa kesulitan membantai semua lawan dengan straight set, termasuk di pertandingan final melawan Sammy/Grant.

Thursday, June 26, 2008

From Zero to One: Catatan Seorang Pemain Medioker

Sepakbola adalah salah satu hobi saya sejak kecil. Bersama saudara-saudara saya terutama adik saya yang satu ini, kami seringkali menghabiskan waktu untuk mempermainkan (kadang dipermainkan) si kulit bundar bersama. Sebagai penggemar sepakbola, kami tidak terlalu pilih-pilih soal lapangan. Kadang kami bermain di dalam rumah, di waktu lain di garasi rumah, atau di halaman. Biasanya pertandingan berakhir setelah partai sepakbola tidak bermutu yang kami mainkan memakan korban. Pagar rumah, kaca jendela, dan pot bunga adalah korban favorit kami. Tentu saja Ibu kami sering mencak-mencak dan menyuruh kami bermain di lapangan sepakbola sungguhan (yang kami terjemahkan sebagai instruksi untuk berhenti mengingat tidak ada lapangan sepakbola di kompleks rumah kami... oh, sedihnya jadi anak kota).

Hobi sepakbola ini jarang saya salurkan ke luar rumah, utamanya karena perasaan tidak pede dan merasa tidak jago. Badan yang pendek, fisik yang lemah, teknik yang memilukan, dan mental penakut adalah kombinasi terbaik untuk menghasilkan pesepakbola paling konyol yang pernah ada. Pertama kali saya melakoni pertandingan sepakbola di luar rumah adalah ketika saya menginjak kelas empat Sekolah Dasar. Semangat sepakbola total football (dimana ada bola, disitu semua pemain berkerumun dan saling menendang satu sama lain) membuat saya enggan untuk sering-sering mengejar bola. Satu-satunya aksi yang saya lakukan di pertandingan tersebut adalah sebuah tendangan super cantik yang menyebabkan bola masuk ke gawang sendiri.

Tidak banyak yang berubah ketika saya memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Daripada bermain bola di waktu pelajaran olahraga, saya lebih memilih untuk duduk-duduk di pinggir lapangan tanpa melakukan apa-apa. Sampai akhirnya suatu hari, seorang kawan mengajak saya untuk bermain bola di lapangan Saparua Bandung. Sebuah ajakan sinis memang, mengingat mengajak saya bermain bola tidak ubahnya seperti kucing mengajak tikus untuk sarapan bersama. Entah kenapa saya menyetujui saja tawaran tersebut, sekaligus membuat kawan tersebut terbengong-bengong tidak percaya. Sejak saat itulah karir sepakbola saya dimulai, sepakbola setiap hari minggu pun menjadi suatu keharusan. Sayangnya, bermain di lapangan Saparua secara rutin tidak serta-merta membuat saya jadi lebih jago. Hal ini memaksa seorang teman untuk berbaik hati memberikan saya saran agar bisa tampil lebih baik.

Teman yang baik hati dan gemar menabung (TYBHDGM): Saya tahu posisi terbaik buat kamu.

Saya: Apa? (Berbinar-binar)

TYBHDGM: Kamu harus bermain lebih ke kanan.

Saya: Tapi saya kan sudah di sayap kanan?

TYBHDGM: Ya. teruslah ke kanan lagi. Terus-terus... sampe ke luar lapangan.

Untungnya segala cacian dan makian yang saya terima masih belum cukup sadis untuk menyurutkan motivasi saya dalam bermain bola. Malah sebaliknya, keinginan untuk bermain sepakbola semakin menggebu-gebu, terutama ketika masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Di SMA saya setiap tahun diadakan kompetisi sepakbola antarkelas. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk untuk memamerkan kehebatan saya dalam menggocek si kulit bundar. Ehm, maaf, tadi saya bilang apa? Selama dua tahun pertama bermain di kompetisi antarkelas, peran terbesar saya adalah sebagai pengangkut kardus botol Aqua. Satu-satunya orang yang senang dengan keikutsertaan saya di kompetisi antarkelas adalah tukang teh botol langganan yang selalu mangkal di pinggir lapangan. Nasib baik baru mulai menyapa ketika masuk ke kelas 3. Pengacakan kelas yang sensasional menyebabkan komposisi gender di kelas saya tidak merata dimana jumlah perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki (asiikkk... :P). Dari sembilan belas lelaki beruntung yang bercokol di kelas kami, hanya dua belas orang diantaranya yang menggemari sepakbola. Dan seperti sudah diatur nasib, setiap pertandingan di kompetisi antarkelas berlangsung, ada saja satu pemain yang tidak hadir... akibatnya, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus terus-menerus berada di lapangan... hehehe...

Sebego-begonya saya main sepakbola, kalau terus menerus main dan mengikuti kompetisi akhirnya berkembang juga walaupun hanya sedikit saja. Ya, saya tekankan sekali lagi: sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttt saja. Dengan bekal skill yang pas-pasan inilah saya bertekad akan melanjutkan karir sepakbola di masa kuliah. Untungnya, kesempatan menjadi pemain utama di tim angkatan dan jurusan cukup terbuka. Bukan karena saya yang jago, tapi karena kultur sepakbola di sana tidak sekental pada saat masih SMA. Pada masa kuliah pula ini tim sepakbola ceria HB202 -yang diberi kode serupa dengan mata kuliah- terbentuk. Latihan fisik pun sering saya jalani, kadang-kadang di bawah terik matahari siang hari yang dengan sukses menghitamkan kulit saya yang memang tidak putih. Tiga tahun berkarir di berbagai kejuaraan banyak menghasilkan memori yang tak terlupakan walaupun tidak bisa dibilang mengesankan, terutama karena tim kami lebih banyak dianiaya daripada sebaliknya.

Lulus dari kuliah tidak membuat ketertarikan saya terhadap sepakbola menurun, hanya saja saya semakin kesulitan untuk mencari rekan bertanding. Untuk menghadirkan kawan dan lawan tanding setiap minggunya diperlukan usaha yang cukup keras, mulai dari pengorbanan waktu, pulsa, ongkos, dan biaya sewa lapangan yang sering pura-pura dilupakan. Belum lagi karakter sejumlah pemain yang sering tidak bisa ditebak, janji untuk datang namun hingga waktu sewa berakhir tidak nampak sama sekali batang hidungnya. Namun dibalik itu semua, saya merasakan kemajuan yang cukup berarti dalam skill olah bola yang ujung-ujungnya meningkatkan rasa percaya diri di lapangan.

Suasana sepakbola yang lebih kondusif akhirnya saya rasakan ketika menempuh pendidikan S2 di Belanda. Lapangan yang bagus dan banyak tersedia, antusiasme tinggi dari para pemain sepakbola, dan kesempatan untuk bertanding dengan jago bola dari mancanegara membuat semangat bermain bola semakin meninggi. Peran saya sebagai pemain terkonyol di lapangan sepertinya (atau perasaan saya saja) sudah tidak valid lagi. Sejumlah penggemar pun rela antri untuk meminta tanda tangan dari saya... oke, kalimat terakhir itu bohong. Pengalaman bermain sepakbola di berbagai kondisi semakin banyak. Kalau sebelumnya lebih sering berkutat di masalah hujan dan kualitas lapangan yang buruk, di Belanda saya bermain bola di tengah badai, salju, maupun suhu super-dingin yang sama sekali tidak cocok untuk manusia-manusia yang berasal dari negara tropis.

Saat ini antusiasme sepakbola di komunitas kami memang tidak setinggi sebelumnya. Namun selama masih ada teman untuk bermain sepakbola maka saya akan terus bermain dan mengasah kemampuan saya dalam "merumput". Buat saya, sepakbola bukan hanya sekedar hobi, tapi sudah menjadi rasa yang sangat mendasar. Sama seperti rasa lapar, haus, maupun keinginan untuk ngupil... idih.

Catatan: tulisan ini diinspirasi oleh posting berjudul From Hero to Zero yang ditulis oleh seorang pemain berbakat yang sempat bermain bersama saya

Monday, June 16, 2008

See ya, Marcelo!

Ini posting yang sangat-amat-mamat-terlambat untuk dituliskan. Namun seperti kata peribahasa: "biar lambat asal selamat" "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" maka dengan semangat peribahasa tersebut maka posting ini tetap dilanjutkan meskipun mungkin tidak semua orang dapat dipuaskan (lho?).

Marcelo, teman kami dari Meksiko ini adalah anggota tim sepakbola ceria (sebelum diubah namanya menjadi sepakbola sersan) yang biasa berlatihsenang-senang bersama di lapangan hoki-yang-dipakai-main-bola setiap hari Sabtu pagi. Beberapa bulan silam Marcelo pindah ke Barcelona, Spanyol untuk melanjutkan karir akademisnya (sekaligus mematikan karir sepakbolanya). Di latihan terakhirnya kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama di tengah angin yang bertiup begitu kencangnya.


Berdiri (ki-ka): Julius, unknown, Jarot Inzaghi, Firman, Edi Edto'o, Jerry, HabsQ, Marcelo, Marwan, unkown, Kapten Endru, Tarek
Duduk (ki-ka): Nelson, Elpis, Tigor Nani, Yusuf bukan Ucup, Sertac, Nicky Essien, Edgardo

Pesan Marcelo kepada saya: tolong sebarkan foto ini, salam buat teman-teman di Delft, belajar yang rajin, dan jadilah anak yang baik dan berbakti kepada nusa dan bangsa (oke-oke saya ngarang yang dua terakhir)

Salam nendang!

Saturday, June 07, 2008

Hati-hati, Federer!

Roger Federer, petenis nomor satu dunia yang selama beberapa tahun belakangan ini hegemoninya sangat sulit untuk dipatahkan dalam sisa karirnya dijamin tidak akan bisa menikmati kejayaan dengan ongkang-ongkang kaki saja. Serbuan sejumlah pemain muda berbakat di dunia tenis terbukti telah mempersulit Federer lebih dari apa yang diberikan oleh petenis-petenis senior. Sebut saja Rafael Nadal si penguasa lapangan tanah liat, Novak Djokovic yang juara Wimbledon, atau Richard Gasquest yang dijuluki "si Bayi Federer".

Tapi bukan Nadal, Djokovic, atau Djokovic yang akan saya bahas di sini, melainkan Ernests Gulbis. Nama Ernests Gulbis mungkin masih cukup asing bagi kebanyakan orang, kecuali pecinta tenis yang memperhatikan gebrakannya di Perancis terbuka. Gulbis, satu-satunya petenis asal Latvia yang saya pernah dengar namanya ini dipercaya punya potensi untuk masuk peringkat sepuluh besar dunia. Setidaknya begitulah pendapat salah satu penyiar radio siaran langsung tenis Perancis Terbuka yang masih berlangsung sampai saat ini.

Bagi saya pribadi, Gulbis bukan hanya layak masuk peringkat sepuluh besar dunia, melainkan juga kandidat kuat untuk ikut "mengacaukan" posisi tiga besar dunia yang saat ini dengan nyamannya dikuasai oleh Federer, Nadal, dan Djokovic. Itulah komentar saya setelah menyaksikan sejumlah pertandingannya.


Gaya Permainan

Gulbis dikenal sebagai pemain yang sangat agresif dan taktis. Biasanya dia bermain di baseline walaupun talentanya memungkinkan dia untuk bermain di posisi manapun. Forehandnya adalah senjata yang mematikan karena dieksekusi dengan kecepatan yang luar biasa dan cenderung flat (tanpa spin) sesuai dengan naturnya yang eksplosif membuat pertandingan yang melibatkan Gulbis menjadi sangat enak ditonton. Pukulan-pukulannya tajam dan seringkali jatuh di dekat garis belakang lapangan membuat lawan kesulitan untuk melancarkan serangan. Lob dan drop shotnya pun sangat baik dan dapat dilancarkan dari sisi lapangan manapun.

Kelemahan

Dengan segala kehebatan dan talentanya, mengapa Gulbis saat ini masih berada di peringkat 80 dunia? Salah satu kelemahan Gulbis adalah backhandnya yang kurang variatif meskipun cukup tajam. Kelemahan lainnya yang sangat mencolok adalah mental bertanding. Gulbis dikenal merupakan pemain yang gampang tertekan, terutama di saat-saat penting. Kekalahan Gulbis dari Djokovic di Perancis Terbuka bisa dijadikan contoh. Meskipun hampir selalu memegang kendali permainan, Gulbis tetap tidak sanggup mengalahkan Djokovic. Seringkali dia melakukan kesalahan sendiri (unforced error) sehingga berkali-kali kehilangan angka. Gaya permainnya yang agresif juga sangat mempengaruhi jumlah kesalahan yang dibuatnya. Usianya yang sangat muda (19 tahun) mungkin juga menjadi masalah, namun seiring dengan bertambahnya usia saya harapkan Gulbis bisa mengatasi kelemahan-kelemahannya. Federer saja bukan siapa-siapa di usia 19 tahun.

ket: foto diambil dari wikipedia