Showing posts with label Kisah Masa Silam. Show all posts
Showing posts with label Kisah Masa Silam. Show all posts

Sunday, April 01, 2012

Ini Cerita Jaman SMA

Alkisah di sebuah negeri antah-berantah...

...adalah awalan yang bagus untuk cerita lain, tapi bukan yang ini.

Ketika itu saya baru lulus SMP dan tengah menjalani masa orientasi di SMA. Kelas yang saya huni mendapatkan kehormatan besar untuk menjadi tim paduan suara untuk upacara bendera. Sebelum menjalani upacara bendera tentunya kami harus menjalani latihan terlebih dahulu, tentu saja dengan didampingi oleh beberapa orang pelatih yang merupakan senior di SMA.

Sudah seharusnya dalam upacara bendera, lagu kebangsaan harus dinyanyikan dengan gagah dan sikap sempurna. Sebagai seorang warga negara yang baik, tentu saja saya bernyanyi dengan penuh semangat dan semangat empat lima. Latihan dipimpin oleh Pelatih Pria Paling Kemayu (P3K).

P3K: "Ayo nyanyinya yang semangat dong...."
Saya: (makin keras nyanyi dan makin semangat untuk memberi contoh teman-teman yang lain)
P3K: "......" (berpikir keras)
P3K: (menggumam) "Sepertinya ada yang salah nih" (kemudian berputar-putar di antara tim paduan suara)
P3K: (berhenti di depan saya)
Saya: (makin semangat dan berapi-api, apalagi ada pelatih di depan nih...)
P3K: (mendekatkan kuping, lalu kemudian tanpa basa-basi) "ya kamu" (sambil menunjuk saya) "sebaiknya kamu gerakin mulut aja, nggak usah nyanyi... lipsing gitu ya.... habisnya suaranya fals!"

Saat itu Indonesia kehilangan satu orang warga negara yang baik.

Tuesday, March 23, 2010

Radiasi Nuklir

Ini kisah jaman jebot. Saya punya alergi terhadap debu, panas, stress, atau dengan kata lain, alergi terhadap hidup yang keras (itulah mengapa saya sangat menanti-nanti buku karangan Melanotmeli dengan judul "Tips How to Survive Bersekolah di LN edisi Anak Manja"). Setiap kali saya terekspos terhadap bibit-bibit alergi tersebut, kulit saya akan mengering, gatal-gatal, dan tidak enak dilihat. Saya sendiri sudah sangat terbiasa dengan hal ini, namun tidak demikian halnya dengan orang-orang lain. Seringkali orang bertanya-tanya tentang kejaiban rupa kulit yang tidak bisa dibilang mulus ini. Kadang-kadang saya merasa annoyed juga dengan pertanyaan-pertanyaan model begini, hingga akhirnya jawaban yang keluar pun sekenanya saja.

Sebutlah A (bukan nama sebenarnya, nama sebenarnya bisa Tono, Joni, atau Leonardo di Caprio), dia adalah teman SMP yang meskipun tidak satu kelas, tapi sering berjumpa dikarenakan kami sama-sama hobi makan bakso telor gurilem.

A: "Kulit kamu kenapa?"
HabsQ: "kenapa apanya?" *cuek*
A: "Kok brintil-brintil kasar begitu?"
HabsQ: "oh iya, biasa..."
A: "Biasa apa?" *mulai ngotot*
HabsQ: *ngga sabar* "hmmm... ya gitu deh... waktu kecil ngga ada apa2, tapi terus sempet tinggal deket reaktor nuklir. Tiap hari kena radiasi dalam jumlah cukup signifikan dan nggak pakai baju khusus. Akibatnya kulitnya bermutasi dan setiap tahun ganti kulit. Pas deket-deket minggu ini kayaknya waktu ganti kulitnya..." *ngasal abis*
A: (ternganga, speechless)

Sejak saat itu terjadi perubahan misterius pada A. Setiap kali bertemu, wajahnya tampak cemas dan raut mukanya menampakkan rasa kasihan yang mendalam... atau kekhawatiran terkena efek samping radiasi...

Wednesday, August 12, 2009

365 Teman...

Ini cerita yang sudah lama sekali...

Alkisah, seorang teman kuliah Bapakku punya kesulitan finansial. Saking sulitnya, si teman ini bahkan tidak sanggup menyewa kos-kosan yang paling murah sekalipun. Namun sebagai mahasiswa perguruan tinggi terkemuka di kotanya, si teman ini nggak gampang menyerah. Setiap hari dia menginap di satu rumah relasinya dan numpang makan di sana. Uniknya, dalam satu tahun setiap rumah hanya diinapi sekali saja, total jumlah relasi si teman ini 365 orang. Begitulah Bapakku menjelaskan pentingnya membangun relasi...

Mendapatkan cerita yang sangat berkesan seperti itu, dalam diriku terpatri dengan kuat bahwa tahun-tahun kabisat adalah masa yang sangat sulit...

Thursday, January 22, 2009

Jaman SMP

Karena banyaknya permintaan pembaca untuk menampilkan cerita-cerita saya di masa lalu, maka posting kali ini akan menampilkan sepenggal cerita yang menarik dan bermakna dalam... selamat menikmati.

Kala itu saya masih duduk di bangku SMP kelas dua. Bersama teman sekelas saya, Agus, kami berencana bermain bulutangkis di gedung olahraga yang terletak di dalam sekolah. Pintu masuk utama yang biasa kami lewati ternyata terkunci, sehingga jalan satu-satunya adalah dengan melewati pintu yang terdapat di ruang guru. Bagi saya pribadi, ruang guru adalah tempat yang wajib dihindari kecuali terpaksa... maklum, di SMP saya, ruang guru sering diidentikkan sebagai tempat dimana murid-murid yang badung sering dipanggil untuk diberi "pengarahan".

Karena kami tidak punya pilihan lain untuk memasuki gedung olahraga, kami memutuskan untuk masuk ke ruang guru. Yang dimaksud dengan ruang guru sebenarnya adalah sebuah ruangan yang sangat besar dengan banyak meja dan kursi dimana semua guru kecuali kepala sekolah berkantor disitu. Ruang guru yang biasanya ramai saat itu sangat kosong karena memang hari sudah sore. Hanya ada satu guru yang terlihat sedang melakukan sesuatu di mejanya.

Tidak seperti saya yang clueless, Agus adalah anak yang mengerti tata krama dan sopan santun. "Selamat sore Pak, kami permisi mau ke lapangan bulutangkis", sapa Agus yang kemudian saya ikuti dengan mengucapkan kalimat singkat "sore Pak".

Tidak ada reaksi apa-apa dari guru tersebut.

Agus pun menyapa dengan lebih keras, "SELAMAT SORE PAK, KAMI PERMISI MAU LEWAT".

Masih tidak ada reaksi.

Merasa dicuekin, kami pun ngeloyor saja untuk memasuki gedung olahraga. Tak disangka, ketika kami hendak membuka pintu ke gedung olahraga, guru tersebut kemudian memanggil. "Kalian, coba kemari sebentar", ujarnya. Kami pun datang mendekati guru tersebut.

Sang Guru: "Kalian kelas berapa?"
Agus dan saya: "Kelas 2-3 Pak"
Sang Guru: "Kalian tahu apa kesalahan kalian?"
Agus dan saya: (bingung)
Sang Guru: (suara meninggi) "Sudah kelas 2 harusnya mengerti sopan santun dong, masak lewat ruang guru tidak memberi salam atau minta izin, memangnya ruang guru ini milik kalian?"
Agus dan saya: "&^%$%#@$^$%#!!"

Moral cerita ini:
Tata krama dan sopan santun adalah hal yang sangat penting, namun korek kuping juga tidak kalah pentingnya.