Thursday, June 26, 2008

From Zero to One: Catatan Seorang Pemain Medioker

Sepakbola adalah salah satu hobi saya sejak kecil. Bersama saudara-saudara saya terutama adik saya yang satu ini, kami seringkali menghabiskan waktu untuk mempermainkan (kadang dipermainkan) si kulit bundar bersama. Sebagai penggemar sepakbola, kami tidak terlalu pilih-pilih soal lapangan. Kadang kami bermain di dalam rumah, di waktu lain di garasi rumah, atau di halaman. Biasanya pertandingan berakhir setelah partai sepakbola tidak bermutu yang kami mainkan memakan korban. Pagar rumah, kaca jendela, dan pot bunga adalah korban favorit kami. Tentu saja Ibu kami sering mencak-mencak dan menyuruh kami bermain di lapangan sepakbola sungguhan (yang kami terjemahkan sebagai instruksi untuk berhenti mengingat tidak ada lapangan sepakbola di kompleks rumah kami... oh, sedihnya jadi anak kota).

Hobi sepakbola ini jarang saya salurkan ke luar rumah, utamanya karena perasaan tidak pede dan merasa tidak jago. Badan yang pendek, fisik yang lemah, teknik yang memilukan, dan mental penakut adalah kombinasi terbaik untuk menghasilkan pesepakbola paling konyol yang pernah ada. Pertama kali saya melakoni pertandingan sepakbola di luar rumah adalah ketika saya menginjak kelas empat Sekolah Dasar. Semangat sepakbola total football (dimana ada bola, disitu semua pemain berkerumun dan saling menendang satu sama lain) membuat saya enggan untuk sering-sering mengejar bola. Satu-satunya aksi yang saya lakukan di pertandingan tersebut adalah sebuah tendangan super cantik yang menyebabkan bola masuk ke gawang sendiri.

Tidak banyak yang berubah ketika saya memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Daripada bermain bola di waktu pelajaran olahraga, saya lebih memilih untuk duduk-duduk di pinggir lapangan tanpa melakukan apa-apa. Sampai akhirnya suatu hari, seorang kawan mengajak saya untuk bermain bola di lapangan Saparua Bandung. Sebuah ajakan sinis memang, mengingat mengajak saya bermain bola tidak ubahnya seperti kucing mengajak tikus untuk sarapan bersama. Entah kenapa saya menyetujui saja tawaran tersebut, sekaligus membuat kawan tersebut terbengong-bengong tidak percaya. Sejak saat itulah karir sepakbola saya dimulai, sepakbola setiap hari minggu pun menjadi suatu keharusan. Sayangnya, bermain di lapangan Saparua secara rutin tidak serta-merta membuat saya jadi lebih jago. Hal ini memaksa seorang teman untuk berbaik hati memberikan saya saran agar bisa tampil lebih baik.

Teman yang baik hati dan gemar menabung (TYBHDGM): Saya tahu posisi terbaik buat kamu.

Saya: Apa? (Berbinar-binar)

TYBHDGM: Kamu harus bermain lebih ke kanan.

Saya: Tapi saya kan sudah di sayap kanan?

TYBHDGM: Ya. teruslah ke kanan lagi. Terus-terus... sampe ke luar lapangan.

Untungnya segala cacian dan makian yang saya terima masih belum cukup sadis untuk menyurutkan motivasi saya dalam bermain bola. Malah sebaliknya, keinginan untuk bermain sepakbola semakin menggebu-gebu, terutama ketika masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Di SMA saya setiap tahun diadakan kompetisi sepakbola antarkelas. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk untuk memamerkan kehebatan saya dalam menggocek si kulit bundar. Ehm, maaf, tadi saya bilang apa? Selama dua tahun pertama bermain di kompetisi antarkelas, peran terbesar saya adalah sebagai pengangkut kardus botol Aqua. Satu-satunya orang yang senang dengan keikutsertaan saya di kompetisi antarkelas adalah tukang teh botol langganan yang selalu mangkal di pinggir lapangan. Nasib baik baru mulai menyapa ketika masuk ke kelas 3. Pengacakan kelas yang sensasional menyebabkan komposisi gender di kelas saya tidak merata dimana jumlah perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki (asiikkk... :P). Dari sembilan belas lelaki beruntung yang bercokol di kelas kami, hanya dua belas orang diantaranya yang menggemari sepakbola. Dan seperti sudah diatur nasib, setiap pertandingan di kompetisi antarkelas berlangsung, ada saja satu pemain yang tidak hadir... akibatnya, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus terus-menerus berada di lapangan... hehehe...

Sebego-begonya saya main sepakbola, kalau terus menerus main dan mengikuti kompetisi akhirnya berkembang juga walaupun hanya sedikit saja. Ya, saya tekankan sekali lagi: sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttt saja. Dengan bekal skill yang pas-pasan inilah saya bertekad akan melanjutkan karir sepakbola di masa kuliah. Untungnya, kesempatan menjadi pemain utama di tim angkatan dan jurusan cukup terbuka. Bukan karena saya yang jago, tapi karena kultur sepakbola di sana tidak sekental pada saat masih SMA. Pada masa kuliah pula ini tim sepakbola ceria HB202 -yang diberi kode serupa dengan mata kuliah- terbentuk. Latihan fisik pun sering saya jalani, kadang-kadang di bawah terik matahari siang hari yang dengan sukses menghitamkan kulit saya yang memang tidak putih. Tiga tahun berkarir di berbagai kejuaraan banyak menghasilkan memori yang tak terlupakan walaupun tidak bisa dibilang mengesankan, terutama karena tim kami lebih banyak dianiaya daripada sebaliknya.

Lulus dari kuliah tidak membuat ketertarikan saya terhadap sepakbola menurun, hanya saja saya semakin kesulitan untuk mencari rekan bertanding. Untuk menghadirkan kawan dan lawan tanding setiap minggunya diperlukan usaha yang cukup keras, mulai dari pengorbanan waktu, pulsa, ongkos, dan biaya sewa lapangan yang sering pura-pura dilupakan. Belum lagi karakter sejumlah pemain yang sering tidak bisa ditebak, janji untuk datang namun hingga waktu sewa berakhir tidak nampak sama sekali batang hidungnya. Namun dibalik itu semua, saya merasakan kemajuan yang cukup berarti dalam skill olah bola yang ujung-ujungnya meningkatkan rasa percaya diri di lapangan.

Suasana sepakbola yang lebih kondusif akhirnya saya rasakan ketika menempuh pendidikan S2 di Belanda. Lapangan yang bagus dan banyak tersedia, antusiasme tinggi dari para pemain sepakbola, dan kesempatan untuk bertanding dengan jago bola dari mancanegara membuat semangat bermain bola semakin meninggi. Peran saya sebagai pemain terkonyol di lapangan sepertinya (atau perasaan saya saja) sudah tidak valid lagi. Sejumlah penggemar pun rela antri untuk meminta tanda tangan dari saya... oke, kalimat terakhir itu bohong. Pengalaman bermain sepakbola di berbagai kondisi semakin banyak. Kalau sebelumnya lebih sering berkutat di masalah hujan dan kualitas lapangan yang buruk, di Belanda saya bermain bola di tengah badai, salju, maupun suhu super-dingin yang sama sekali tidak cocok untuk manusia-manusia yang berasal dari negara tropis.

Saat ini antusiasme sepakbola di komunitas kami memang tidak setinggi sebelumnya. Namun selama masih ada teman untuk bermain sepakbola maka saya akan terus bermain dan mengasah kemampuan saya dalam "merumput". Buat saya, sepakbola bukan hanya sekedar hobi, tapi sudah menjadi rasa yang sangat mendasar. Sama seperti rasa lapar, haus, maupun keinginan untuk ngupil... idih.

Catatan: tulisan ini diinspirasi oleh posting berjudul From Hero to Zero yang ditulis oleh seorang pemain berbakat yang sempat bermain bersama saya

Wednesday, June 25, 2008

Apa Bedanya Anda dengan Tokoh Itu?

Ini berita yang cukup menarik, detik.com memuat berita tentang kesaksian ahli (saya agak malas menggunakan kata "pakar") forensik akustik dari ITB, Joko Sarwono berhubungan dengan kasus Jaksa Urip dan Artalyta.

Pak Joko tampak berhati-hati dalam menjawab pertanyaan dari pengacara Artalyta, namun menurut saya malah membuat kredibilitasnya semakin terjaga.
Saat ditanya oleh pengacara Artalyata, OC Kaligis apakah benar suara yang dia teliti adalah suara kliennya, Joko menjawab diplomatis.

"Saya tidak katakan dia Artalyta tapi kedua orang yang suaranya diberikan ke saya adalah orang yang sama. Tugas saya hanya membandingkan kedua suara itu identik," jelasnya.

Yang lucu adalah pertanyaan dari ketua hakim Mansyur Chaniago yang sepertinya berusaha memastikan bahwa Pak Joko ini benar-benar pak... maksud saya, ahli.
Beda Anda dengan tokoh-tokoh di televisi itu apa? tanya ketua hakim Mansyur Chaniago.

"Saya tidak mau menyebut nama orang tapi beda saya dengan orang yang anda sebut tadi adalah backgroundnya. Kalau saya backgroundnya memang ini tapi kalau orang yang memang anda sebut tadi setahu saya fakultasnya Fikom," jawab Joko sambil senyum.
Saya tidak kenal siapa itu Pak Joko tapi mudah-mudahan beliau memang orang yang tepat untuk dimintai pendapat mengenai hal-hal semacam ini.

Berita selengkapnya bisa dilihat di sini.

Saturday, June 21, 2008

Aphado

Aphado, bukan "apa dong" adalah kata dari bahasa Korea yang bila diterjemahkan secara bebas berarti "Even if it hurts". Sayangnya penjelasan tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan posting ini. Loh, kalau begitu kenapa ditulis? Dengan memperbanyak jumlah tulisan saya berharap supaya blog ini tampak seperti blog yang ditulis oleh orang yang kreatif dan tidak pernah kehabisan ide, selain itu... -cut-

Oke, cukup OOTnya. Berikut ini saya tampilkan dua buah klip video yang menarik. Hanya saja sebelum pembaca yang budiman memutar kedua klip terebut maka ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Pertama, kedua video klip ini adalah cerita bersambung. Jadi menonton video kedua sebelum video pertama bisa dikategorikan sebagai sebuah ketidakcerdasan terencana, terutama karena saya sudah memperingatkan anda disini. Kedua, video kedua lebih penting daripada video pertama. Karena itu tontonlah video kedua setelah anda menonton video pertama, dan bila anda tidak punya cukup waktu untuk menonton kedua video tersebut, sebaiknya anda mencari video lain saja. Ketiga, bila anda termasuk orang yang jantungan over-sensitive, maka saya tidak menganjurkan anda untuk melihat kedua video di bawah ini. Keempat, siapkan tissue secukupnya. Kelima, bila tissue itu tidak digunakan harap dikembalikan ke tempat semula demi kenyamanan kita bersama.

Maka tanpa banyak basa-basi lagi, inilah kedua video tersebut. Selamat menyaksikan.






Seperti telah saya selatankan utarakan sebelumnya, video kedua akan mendapat perhatian lebih (loh, situ kok nangis-nangis? Saya aja nggak... nggak salah). Jadi bagi yang berani mencoba menyanyikan lagu kita hari ini bisa nyontek lirik berikut ini (makasih buat aheeyah.com).

Aphado

romanization by: Sabby ~NBK~ (also credit: aheeyah.com)

Aphado na noui sonul nohji anhulle
hanuri gajyogan naui sarangul
sumi maghidorog guriumi joeyo ojiman
nunmurun samkhyo yahe
yorin misomajo arumdaun nol
irohge nan bonel sun obso


[Rap]
Noui sonul kog jabun ne sondunge torojin nunmurun
nal dugo tonaganun nol midji mothan ne aphumdul
nunaphe pyolchyojin midul su obnun gwanggyonge
chijojil dud aphaonun ne gasumun munojigo
nomunado saranghedon uriduri yogie
non hanuri nege jushin ne sarange majimag gihoe
gurogie norul wihe ne modun gosul dwie
boryodun che mogsumboda gwihan noui gyothul jikhine


Ne sonul nohji mothesso
chagawojin noui hayan du sonul
narul chadnun noui majimag nungil
nan kuthi anirago marhago shipho


Nega garuchyojulge arumdaun uri yonghone sarang
nonun birog gyothe objiman nan gasumuro norul nukkil su isso oh


Werohi changgae dullyo onun bissori
majimag jagbyol insaman gathunde
sulphun kumirago nunul dashi gamabojiman
boiji anhnun noya
yorin misomajo arumdaun nol
irohge nan bonel sun obso


[Rap]
Mianhe hangsang norul sulphugeman hessogo
yongsohe aphun norul himdulgeman hessogo
amugodo gajin godo obnun nayojiman
non onjena ne gyotheso hangsang balge uso jwonungol
dwinudge huhoehamyo norul gide hebwado
non imi nawa darun sesanguro gaboryonungol
jogumman gidaryojul su igeni
nujojiman dashi norul mannal gunalkaji
let me say good bye


Ne sonul nohji mothesso
chagawojin noui hayan du sonul
narul chadnun noui majimag nungil
nan kuthi anirago marhago shipho


Nega garuchyojulge arumdaun uri yonghone sarang
nonun birog gyothe objiman nan gasumuro norul nukkil su isso oh


Aphado na noui sonul johji anhulle
hanuri gajyogan naui sarangul
sumi maghidorog guriumi joeyo ojiman
nunmurun samkhyo yahe
yorin misomajo arumdaun nol
irohge nan bonel sun obso
onuldo nowa nan kumul hamkehe


Terjemahan bebas tanpa nuansa politis apapun:

Even if it hurts

translation by: Jungie (also credit: aheeyah.com)

Even if it hurts, I'm not letting go of your hand.
The heavens have taken away my love and though
longing is suffocating me so I can't breathe
I have to swallow my tears back.
Even your fraile smile is beatiful.
I can't let go you like this.


rap) My tears have fallen on the back of my hand that's holding tightly
to yours.
My pain can't believe that you're leaving me behind.
My heart, hurting like it's being ripped in two, breaks down
before the unbelievable scene unfolding before my eyes.
Because we were so in love, because you were the last hope for my love
that the heavens had sent me, because that's who you were I threw
everything away behind me. You were more important than my life
and so I had protected you.


I couldn't let go your hand...
Your two cold white hands...
and your last gaze was looking for me.
I want to say that this isn't the end.


I'll teach you the beatiful love of our spirit.
Though you're not by my side, I can feel you with my heart.


The sound of the rain reaches the window
It seems like a last good bye.
I try to close my eyes again telling myself it's just a sad dream
but you're the one that I can't see.
Even your fraile smile is beatiful.
I can't let you go like this.


rap) I'm sorry, I always made you sad.
Please forgive me, I made it harder for you even
though you were already sick.
I had nothing to offer but still you smiled brightly for me.
Even if I wait for you, regretting too late, you've already
departed to a world different from mine.
Could you wait just a little bit?I t's a little late,
but just until the day I meet you again.
Let me say good bye.


I couldn't let go your hand...
Your two cold white hands...
and your last gaze was looking for me.
I want to say that this isn't the end.


I'll teach you the beatiful love of our spirit.
Though you're not by my side, I can feel you with my heart.


Even if it hurts, I'm not letting go of your hand.
The heavens have taken away my love and though
longing is suffocating me so I can't breathe
I have to swallow my tears back.
Even your fraile smile is beatiful.
I can't let go you like this.

Semoga anda-anda sekalian menikmati sajian dari saya hari ini. Seluruh kerabat kerja yang bertugas mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa di posting selanjutnya.

Monday, June 16, 2008

Daemon dari Golden Compass

Ikut-ikutan Mbak lite :P

See ya, Marcelo!

Ini posting yang sangat-amat-mamat-terlambat untuk dituliskan. Namun seperti kata peribahasa: "biar lambat asal selamat" "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" maka dengan semangat peribahasa tersebut maka posting ini tetap dilanjutkan meskipun mungkin tidak semua orang dapat dipuaskan (lho?).

Marcelo, teman kami dari Meksiko ini adalah anggota tim sepakbola ceria (sebelum diubah namanya menjadi sepakbola sersan) yang biasa berlatihsenang-senang bersama di lapangan hoki-yang-dipakai-main-bola setiap hari Sabtu pagi. Beberapa bulan silam Marcelo pindah ke Barcelona, Spanyol untuk melanjutkan karir akademisnya (sekaligus mematikan karir sepakbolanya). Di latihan terakhirnya kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama di tengah angin yang bertiup begitu kencangnya.


Berdiri (ki-ka): Julius, unknown, Jarot Inzaghi, Firman, Edi Edto'o, Jerry, HabsQ, Marcelo, Marwan, unkown, Kapten Endru, Tarek
Duduk (ki-ka): Nelson, Elpis, Tigor Nani, Yusuf bukan Ucup, Sertac, Nicky Essien, Edgardo

Pesan Marcelo kepada saya: tolong sebarkan foto ini, salam buat teman-teman di Delft, belajar yang rajin, dan jadilah anak yang baik dan berbakti kepada nusa dan bangsa (oke-oke saya ngarang yang dua terakhir)

Salam nendang!

Friday, June 13, 2008

Oh God, I Beg You

Oh God, I beg you...

Give me the wisdom,
to understand my boss.

Give me the love,
to forgive him.

Give me the patience,
to understand his deeds.

But God please,
don't give me the power.

Because if You give me the power,

I'll break his head


taken from a mailing list with some changes...
and no no, I don't hate my boss,
let alone breaking his head.
I'll think about something else smarter...

Monday, June 09, 2008

Syukurlah, Saya Bukan Koruptor Buronan

Cek satu kali... aman...

Re-cek, untuk memastikan... bener, nggak ada kok...

Diubek-ubek, geser kiri kanan, puter 90, 180 derajat... emang ga ada kok!

Alhamdulillah, dengan resmi saya nyatakan bahwa saya bukan koruptor buronan.



nb: memisahkan "koruptor" dan "buronan" mungkin akan memberikan hasil yang berbeda

Tautan terkait:

Saturday, June 07, 2008

Hati-hati, Federer!

Roger Federer, petenis nomor satu dunia yang selama beberapa tahun belakangan ini hegemoninya sangat sulit untuk dipatahkan dalam sisa karirnya dijamin tidak akan bisa menikmati kejayaan dengan ongkang-ongkang kaki saja. Serbuan sejumlah pemain muda berbakat di dunia tenis terbukti telah mempersulit Federer lebih dari apa yang diberikan oleh petenis-petenis senior. Sebut saja Rafael Nadal si penguasa lapangan tanah liat, Novak Djokovic yang juara Wimbledon, atau Richard Gasquest yang dijuluki "si Bayi Federer".

Tapi bukan Nadal, Djokovic, atau Djokovic yang akan saya bahas di sini, melainkan Ernests Gulbis. Nama Ernests Gulbis mungkin masih cukup asing bagi kebanyakan orang, kecuali pecinta tenis yang memperhatikan gebrakannya di Perancis terbuka. Gulbis, satu-satunya petenis asal Latvia yang saya pernah dengar namanya ini dipercaya punya potensi untuk masuk peringkat sepuluh besar dunia. Setidaknya begitulah pendapat salah satu penyiar radio siaran langsung tenis Perancis Terbuka yang masih berlangsung sampai saat ini.

Bagi saya pribadi, Gulbis bukan hanya layak masuk peringkat sepuluh besar dunia, melainkan juga kandidat kuat untuk ikut "mengacaukan" posisi tiga besar dunia yang saat ini dengan nyamannya dikuasai oleh Federer, Nadal, dan Djokovic. Itulah komentar saya setelah menyaksikan sejumlah pertandingannya.


Gaya Permainan

Gulbis dikenal sebagai pemain yang sangat agresif dan taktis. Biasanya dia bermain di baseline walaupun talentanya memungkinkan dia untuk bermain di posisi manapun. Forehandnya adalah senjata yang mematikan karena dieksekusi dengan kecepatan yang luar biasa dan cenderung flat (tanpa spin) sesuai dengan naturnya yang eksplosif membuat pertandingan yang melibatkan Gulbis menjadi sangat enak ditonton. Pukulan-pukulannya tajam dan seringkali jatuh di dekat garis belakang lapangan membuat lawan kesulitan untuk melancarkan serangan. Lob dan drop shotnya pun sangat baik dan dapat dilancarkan dari sisi lapangan manapun.

Kelemahan

Dengan segala kehebatan dan talentanya, mengapa Gulbis saat ini masih berada di peringkat 80 dunia? Salah satu kelemahan Gulbis adalah backhandnya yang kurang variatif meskipun cukup tajam. Kelemahan lainnya yang sangat mencolok adalah mental bertanding. Gulbis dikenal merupakan pemain yang gampang tertekan, terutama di saat-saat penting. Kekalahan Gulbis dari Djokovic di Perancis Terbuka bisa dijadikan contoh. Meskipun hampir selalu memegang kendali permainan, Gulbis tetap tidak sanggup mengalahkan Djokovic. Seringkali dia melakukan kesalahan sendiri (unforced error) sehingga berkali-kali kehilangan angka. Gaya permainnya yang agresif juga sangat mempengaruhi jumlah kesalahan yang dibuatnya. Usianya yang sangat muda (19 tahun) mungkin juga menjadi masalah, namun seiring dengan bertambahnya usia saya harapkan Gulbis bisa mengatasi kelemahan-kelemahannya. Federer saja bukan siapa-siapa di usia 19 tahun.

ket: foto diambil dari wikipedia